Wednesday, October 24, 2012

Penggunaan Teknik 5W + 1H di dalam Pembelajaran Menulis Sakubun (Studi Eksperimen terhadap Mahasiswa Universitas Negeri Semarang Fakultas Bahasa dan Seni Jurusan Bahasa dan Sastra Asing Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang Tahun Akademik 2008)

(Ditampilkan pada seminar nasional pembelajaran bahasa Jepang di Unand, Padang 2012)

A.    Pendahuluan
Di dalam pembelajaran berbahasa, menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang dianggap paling sulit.  Oleh karena itu, baik di dalam pembelajaran bahasa pertama maupun kedua, menulis sering menjadi momok menakutkan.  Bahkan, guru pun banyak yang enggan mengampu mata kuliah menulis karena besarnya beban yang terkandung dalam aktivitas menulis.   Seperti yang dikatakan oleh Sutedi (2008) perihal menulis karangan di dalam bahasa Jepang. 
Di dalam pembelajaran bahasa Jepang, pembelajaran menulis biasanya diaplikasikan pada mata kuliah hyoki (huruf hiragana dan katakana), kanji (huruf kanji), bunpou (tata bahasa), dan mata kuliah sakubun.  Mata kuliah hyoki outputnya adalah hafalan huruf hiragana dan katakana. Mata kuliah kanji adalah hafalan huruf kanji, bunpou adalah hafalan aturan struktur kata dan pola kalimat. Sedangkan mata kuliah sakubun merupakan aplikasi dari ketiga mata kuliah sebelumnya.  Outputnya adalah berupa kalimat, paragraf, laporan, karangan, dan lain sebagainya.
Berdasarkan keterangan di atas, bisa diasumsikan bahwa mata kuliah hyoki, kanji, dan bunpo merupakan pembelajaran menulis yang sifatnya teoritis.  Sedangkan sakubun merupakan pembelajaran menulis yang sifatnya aplikatif.  Meskipun demikian, dominasi aspek teoritis ini terasa sekali dalam proses pembelajaran menulis sakubun yang seharusnya bersifat aplikatif.  Lemahnya kemampuan aspek teoritsis pembelajar, sering membuat pengajar seperti berada dalam situasi yang sulit, karena harus meriveu kembali dua mata kuliah sekaligus (kanji dan bunpou).
Padahal, aspek teoritis dari aktivitas menulis inilah yang disinyalir Alwasilah (2009) sebagai salah satu penyebab pembelajar kurang berminat terhadap mata pelajaran menulis. Hal ini juga diungkapkan Sutedi (2008) lewat pernyataan bahwa pengajar sering terlupa memperhatikan aspek aplikatif dalam mengajarkan mata kuliah sakubun.  Seperti aspek perumusan ide tulisan, pengembangan, pengorganisasiannya ke dalam bentuk tulisan.  Padahal, hakikat dari menulis sebagai keterampilan berbahasa itu sendiri adalah aktivitas penuangan ide, perasaan, pengalaman ke dalam bentuk tertulis (Tarigan, 2008; Semi, 2008).
Oleh karena itu, pengajar mata kuliah sakubun semestinya berusaha untuk merancang strategi pembelajaran sakubun yang bisa memancing ide pembelajar ke  luar sehingga mereka jadi tidak bosan dengan masalah-masalah teoritis.  Sehubungan dengan itu, Setiawati (2009) melalui tesisnya merekomendasikan pendekatan proses, Sutedi (2008) mengetengahkan teknik kolaborasi dan media gambar beruntun, dan Dahidi (2008) mengetengahkan penggunaan media sekaligus teknik modelling.  Untuk memperkaya penelitian perihal pembelajaran menulis pada aspek ide ini, penulis melaksanakan studi eksperimen penggunaan teknik 5W + 1H.  
     
B.     Pembahasan
1.      Kajian Teori
Nurgiyantoro (2009) mengatakan bahwa menulis dalam proses pembelajaran mesti digradasikan dalam beberapa tingkatan.  Yaitu; a) menulis tingkat ingatan, b) menulis tingkat pemahaman, c) menulis tingkat penerapan, d) menulis tingkat analisis ke atas.  Menulis tingkat ingatan (a) merupakan pembelajaran menulis untuk melihat kemampuan pembelajar dalam mengingat sesuatu.  Sesuatu itu adalah input yang harus dimiliki pembelajar sebelum menulis.  Sedangkan menulis tahap pemahaman (b) merupakan pembelajaran menulis untuk melihat kemampuan pembelajar dalam memahami input yang telah diberikan.
Selanjutnya, menulis tingkat penerapan (c) merupakan menulis untuk melihat kemampuan pembelajar dalam menuangkan gagasan, perasaan, pengalamannya ke dalam berbagai bentuk atau jenis tulisan.  Sedangkan menulis tingkat analisis (d) ke atas adalah menulis untuk melihat kemampuan berfikir ilmiah pembelajar.  Oleh karena itu, menulis tingkat analisis identik dengan pembelajaran menulis yang dihubungkan langsung dengan penulisan karya ilmiah.
Di dalam bahasa Jepang, Okazaki, Hayashi, Ogawa membagi tingkatan pembelajaran menulis itu ke dalam tiga tingkatan.  Yaitu; a) menulis tingkat dasar (shokyu), b) menulis tingkat menengah (chukyu), c) menulis tingkat mahir (jokyu).  Menulis tingkat shokyu (a) merupakan menulis untuk mengetahui kemampuan pembelajar dalam mengingat input yang diberikan.  Input ini komponen utamanya mengacu kepada huruf hiragana dan kata kana, huruf kanji dalam jumlah tertentu (300-an), kosa kata, dan kalimat yang juga dalam jumlah tertentu.
Menulis tingkat chukyu (b) merupakan menulis untuk mengetahui kemampuan pembelajar dalam mengaplikasikan input yang diperolehnya pada tingkat shokyu.  Khusus untuk huruf kanji, ada penambahan kuantitas menjadi lebih kurang 500-an buah huruf kanji. Sedangkan menulis tingkat jokyu (c) sangat mirip dengan menulis tingkat analisis seperti yang dibahas di atas.  Bedanya, menulis pada tahap joukyu ini masih mengandung penambahan huruf kanji yang jumlahnya 1000 buah huruf atau lebih.
Berdasarkan keterangan dua ahli di atas, dapat diasumsikan bahwa pada hakikatnya menulis itu menyangkut dua aspek kemampuan, yaitu kemampuan yang sifatnya teoritis dan kemampuan yang sifatnya aplikatif.  Kemampuan teoritis mengacu kepada kemampuan penguasaan input (huruf, kosa kata, pola kalimat), kemampuan aplikatif mengacu kepada kemampuan menuangkan ide, perasaan, pengalaman ke dalam bentuk tulisan.  Artinya, kedua aspek tersebut mesti mendapat tempat dalam proses pembelajaran menulis dalam bahasa apapun.
Di dalam proses pembelajaran menulis berbahasa Jepang (sakubun), kekuatiran terhadap aspek teoritis sering membuat pengajar terlena pada aspek teoritis tersebut, dan mengabaikan aspek aplikatif (Sutedi, 2008:Makalah).  Akibatnya, seperti yang dikatakan oleh Setiawati (2006, Tesis) proses pembelajaran didominasi oleh pendekatan produk.  Produk tersebut juga didominasi oleh contoh kalimat, sedikit sekali yang berupa contoh karangan.  Berdasarkan hal tersebut, beberapa peneliti mencoba mengetengahkan solusi melalui beberapa penelitian.  Misalnya, Dahidi () merekomendasikan teknik modelling, Sutedi (2008) gambar beruntun dan teknik kolaboratif, Setiawati (2009) pendekatan proses, dan Heniati (2006) merekomendasikan teknik 5W + 1H.
Teknik 5W + 1H sebenarnya lebih banyak berkembang dalam kegiatan menulis bidang jurnalistik.  Syarat aktualitas, faktual, dan informatif yang terkungkung oleh deadline yang singkat, membuat wartawan butuh teknik khusus yang bisa mempermudah mereka mengembangkan topik (peristiwa, objek) yang akan ditulis dan diterbitkan. Di sisi lain, pembaca juga menginginkan tulisan yang informatif dan menarik.  Informatif mengacu kepada kekayaan ide/ informasi, menarik mengacu kepada organisasi dan tatasaji tulisan yang teratur sehingga enak dibaca dan mudah ditangkap pesannya. Motif inilah yang memunculkan dan menumbuhkembangkan teknik 5W + 1H dalam dunia jurnalistik (Ermanto,).
Asseqaf (dalam Ermanto, 2005) di dalam bahasa Indonesia menerjemahkan istilah 5W + 1H ini menjadi “asdibimega”.  “A” adalah kata tanya apa, “si” adalah siapa, “di” adalah di mana, “bi” adalah bilamana, “me” adalah mengapa, dan “ga” adalah bagaimana.  Jawaban dari kata tanya ini merupakan informasi yang bisa dijadikan sebagai unsur-unsur dalam mengembangkan sebuah ide pokok tulisan.  Jadi, jika jawaban dari kata tanya apa merupakan sebuah ide pokok, maka, jawaban kata tanya lainnya merupakan unsur-unsur yang bisa dijadikan informasi pendukung.  Jika ada informasi pendukung, tentunya kita akan lebih mudah untuk merumuskan arah tulisan, mengorganisasikan pemikiran, dan menyajikannya ke dalam bentuk karangan.
Konsep kerja teknik 5W + 1H yang sederhana di atas, terbukti bisa mengatasi masalah dalam pembelajaran menulis karangan, khususnya pada aspek aplikatif (Heniati, 2006: Tesis).  Jadi, bisa diasumsikan bahwa teknik ini layak untuk diterapkan dalam pembelajaran menulis. Baik untuk meningkatkan kemampuan menulis aspek aplikatif, sekaligus untuk memberikan strategi alternatif dalam rangka mengurangi kebosanan pembelajar terhadap aspek teoritis dalam menulis.  Karena seorang penulis pemula biasanya tidak bermasalah dengan ide pokok tulisan, tetapi kebingungan ketika memulai menulis (Alwasilah, 2009).

2.      Hasil Penelitian
Penggunaan teknik 5W + 1H dalam pembelajaran menulis sakubun ini merupakan studi eksperimental dengan menggunakan satu sampel (eksperimen kuasi).  Berdasarkan konsep dasar teknik ini, maka sampel yang digunakan adalah mahasiswa tahun angkatan ketiga.  Yaitu 20 orang mahasiswa yang sedang mengambil mata kuliah sakubun chukyu.  Karena, berada pada kelas, latar keilmuan, dan sistem pembelajaran yang sama, maka diasumsikan sampel memiliki kemampuan yang homogen.
Secara umum, proses penelitian ini melalui tiga proses. Yaitu; pretest, treatment, dan posttest.  Untuk mendapatkan data yang lebih akurat, di samping pengadaan tes di awal dan di akhir, proses treatment juga dinilai dengan menggunakan catatan observasi.  Sedangkan untuk menilai tanggapan pembelajar mengenai penggunaan teknik 5W + 1H, pembelajar diminta untuk mengisi angket yang sifatnya tertutup.
Pembahasan hasil penelitian ini, dikelompokkan menjadi dua sub pokok bahasan. Yaitu; a) hasil penelitian, b) pengujian hipotesis
a.       Hasil Penelitian
Penelitian eksperimental ini dilaksanakan dari bulan Mei sampai bulan Juni 2011.  Total pelaksanaan 6 kali pertemuan, yaitu, 2 kali tes (pretest dan posttest) dan 4 kali treatment. Pelaksana penelitian adalah salah seorang pengajar di program studi pendidikan bahasa Jepang UNNES. Sampel berjumlah 20 orang, mahasiswa tahun akademik 2008 (semester VI) program studi pendidikan bahasa Jepang, FBS UNNES.
Untuk mengetahui hasil penelitian ini, dilakukan pembahasan data pretes dan postes.
1)      Deskripsi Pretes
Untuk mengetahui kemampuan mahasiswa sebelum mendapatkan treatment, dilakukan pretes.  Data hasil pretes disusun berdasarkan lima (5) kategori penilaian.  Untuk lebih jelasnya, bisa dilihat pada tabel berikut.
Tabel           Distribusi frekuensi dan klasifikasi kemampuan mahasiswa universitas negeri semarang dalam menulis sakubun saat pretes
Interval Skor
Frekuensi
Persentase
Nilai
Kemampuan
81 – 100
3
15%
A
Sangat Baik
66 – 80
6
30%
B
Baik
56 – 65
3
15%
C
Cukup
41 – 55
8
40%
D
Kurang
≥ 40
0
0%
E
Sangat Kurang

Dari tabel di atas terlihat jelas kemampuan umum peserta tes sebleum mendapatkan perlakuan.  Terdapat 15% peserta (3 orang) yang memperoleh nilai A atau berkemampuan SANGAT BAIK, 30% peserta (6 orang) memperoleh nila B (BAIK), 15% (3 orang) memperoleh nilai C (CUKUP), 40% (8 orang) memperoleh nilai D (KURANG), dan tidak ada dari peserta yang memperoleh nilai E (SANGAT KURANG).  Dari distribusi frekuensi ini dapat diasumsikan bahwa kemampuan peserta sebelum mendapatkan perlakuan berada pada klasifikasi KURANG (D).
2)      Deskripsi Postes
Untuk mengetahui kemampuan mahasiswa sesudah mendapatkan treatment, dilakukan postes.  Data hasil pretes disusun berdasarkan lima (5) kategori penilaian.  Untuk lebih jelasnya, bisa dilihat pada tabel berikut.
Tabel           Distribusi frekuensi dan klasifikasi kemampuan mahasiswa universitas negeri semarang dalam menulis sakubun saat postes
Interval Skor
Frekuensi
Persentase (%)
Nilai
Kemampuan
81 – 100
9
45%
A
Sangat Baik
66 – 80
10
50%
B
Baik
56 – 65
1
5%
C
Cukup
41 – 55
0
0%
D
Kurang
≥ 40
0
0%
E
Sangat Kurang

Dari tabel di atas terlihat jelas kemampuan umum peserta tes sebleum mendapatkan perlakuan.  Terdapat 45% peserta (9 orang) yang memperoleh nilai A atau berkemampuan SANGAT BAIK, 50% peserta (10 orang) memperoleh nila B (BAIK), 5% peserta (1 orang) memperoleh nilai C (Cukup).  Tidak ada peserta yang memperoleh nilai D (KURANG) dan nilai E (SANGAT KURANG).  Dari distribusi frekuensi ini dapat disimpulkan bahwa kemampuan peserta setelah mendapatkan perlakuan berada pada klasifikasi BAIK (B).
b.      Pengujian Hipotesis
Hipotesis di dalam penelitian ini terdiri dari hipotesis nol (H0) dan hipotesis kerja (Hi).  Selanjutnya, kedua hipotesis tersebut dirumuskan sebagai berikut;
Hi                teknik 5W + 1H efektif untuk pembelajaran sakubun.
H0                    teknik 5W + 1H tidak efektif untuk pembelajaran sakubun.
Hi > H0          Hi dinyatakan diterima
 Hi > H0         Hi dinyatakan ditolak
Untuk membuktikan rumusan hipotesis di atas, data penelitian diolah dengan menggunakan rumus;
             (Arikunto, 2010)

Dari deskripsi data diketahui;
N                 20                                Db                   19
               421
            11819
Maka,
Md              =  
= 21,05

    2d                       = 11819 -
= 11819443,10
= 11375,90


Jadi, nilai t-hitung;
 t-hitung                   
             
3,85.
Berdasarkan penghitungan dengan menggunakan rumus di atas, didapat nilai t-tes 3,85.  Sedangkan nilai t-tabel pada db 19 adalah 2,09 pada taraf signifikansi 5%, dan 2, 86  pada taraf signifikansi 1%.  Jika nilai t-hitung dan nilai t-tabel ini dugabungkan, akan didapat gambaran berikut;
2,09 < 3,85 > 2,86
Menurut rumusan hipotesis sebelumnya, gambaran perbandingan nilai t-hitung dengan nilai t-tabel di atas sudah bisa digunakan untuk mengambil kesimpulan.  Yaitu, hipotesis kerja (Hi) diterima, dan hipotesis nol (H0) ditolak.  Oleh karena itu, bisa disimpulkan bahwa teknik 5W + 1H efektif untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam menulis sakubun.  Efektifitas teknik ini berada pada taraf signifikansi 1%.

c.       Analisis Hasil Penelitian
Meskipun hasil penghitungan secara statistik menunnjukkan bahwa teknik 5W + 1H efektif untuk meningkatkan kemampuan menulis sakubun. Hasil ini tetaplah hasil penelitian yang sifatnya umum.  Untuk mengetahui detailnnya, maka perlu dilakukan peninjauan pada setiap aspek penilaian yang digunakan.  Aspek mana yang menunjukkan efektifitas, dan aspek mana yang menunjukkan tidak adanya efektifitas.
Dari keempat aspek yang dinilai, peningkatan kemampuan hanya terjadi pada aspek isi dan alur penceritaan karangan (aspek praktis).  Sedangkan pada aspek kosakata dan aspek kalimat (aspek teoritis), tidak terjadi peningkatan kemampuan.  Untuk lebih jelasnya, dijabarkan sebagai berikut;
1)      Aspek Kosakata
Hasil penghitungan nilai t pada aspek kosakata menunjukkan angka 1,14.  Angka ini jelas berada di bawah nilai t-tabel yang berada pada angka 2,09 pada taraf signifikansi 5%, dan 2,86 pada taraf signifikansi 1%.  Oleh karena itu, bisa disimpulkan bahwa teknik 5W + 1H tidak efektif untuk meningkatkan kemampuan menulis pada aspek kosa kata.
Kesalahan yang terjadi tidak hanya perihal pemilihan kata yang tepat secara struktur, tetapi juga masalah pembentukan kata secara morfologis.  Misalnya, bisa dilihat pada kalimat “Ima, nihongo o benkyoushiteiru. Nihongo o benkyou surukoto wa tanoshimu”. Kata yang digaris-bawahi merupakan contoh pemilihan kata yang salah secara struktur.  Seharusnya, kalimat tersebut ditulis “Ima, nihongo o benkyoushiteiru. Nihongo o benkyou surukoto wa tanoshii”.
Secara sintaksis, kata yang digaris-bawahi mestinya diisi dengan kata sifat atau kata keterangan.  Karena kata tersebut berfungsi sebagai keterangan/ gambaran suatu keadaan.  Tidak bisa digantikan oleh kata kerja, seperti kasus yang ditemukan di atas. Kalimat di atas bisa dipadankan dengan “sekarang, saya sedang belajar bahasa Jepang.  Belajar bahasa Jepang (itu) menyenangkan”.  Dalam bahasa Indonesiapun bisa dipahami bahwa fungsi kata yang bergaris-bawah bukanlah sebagai prediket yang biasa diisi dengan kata kerja, tetapi lebih bersifat menerangkan/menggambarkan suatu keadaan.      
2)      Aspek Kalimat
Hasil penghitungan nilai t pada kalimat ini menunjukkan angka 2,08.  Angka ini jelas berada di bawah nilai t-tabel yang berada pada angka 2,09 pada taraf signifikansi 5%, dan 2,86 pada taraf signifikansi 1%.  Oleh karena itu, bisa disimpulkan bahwa teknik 5W + 1H tidak efektif untuk meningkatkan kemampuan menulis pada aspek kalimat.
Masalah konsistensi pemilihan bentuk bahasa merupakan masalah yang paling sering ditemukan dalam karangan.  Misalnya, bisa dilihat pada kalimat yang seharusnya ditulis “nihongo ga muzukashiga, omoshiroi”, atau “nihongo ga muzukashiidesuga, omoshiroi desu”, banyak ditemukan yang menulis “nihongo ga muzukashiidesuga, omoshiroi”.  Di dalam bahasa Indonesia, kalimat ini bisa dipadankan dengan, “bahasa Jepang (itu) sulit, tapi menarik”
Contoh kalimat di atas menunjukkan ketidak-konsistenan mahasiswa dalam memilih bahasa yang digunakan.  Pada kasus ini, yaitu penggunaan bentuk bahasa biasa (futsuukei) dan bentuk bahasa sopan (teineikei) secara bersamaan.  Seharusnya, mahasiswa menggunakan salah satu bentuk bahasa saja, tidak mencampur-adukkan penggunaan bentuk-bentuk bahasa tersebut dalam sebuah konteks tulisan. 
3)      Aspek Isi
Hasil penghitungan nilai t pada aspek kosakata menunjukkan angka 3, 93.  Angka ini jelas berada jauh di atas nilai t-tabel yang berada pada angka 2,09 pada taraf signifikansi 5%, dan 2,86 pada taraf signifikansi 1%.  Oleh karena itu, bisa disimpulkan bahwa teknik 5W + 1H efektif untuk meningkatkan kemampuan menulis pada aspek kosa kata, dengan taraf signifikansi 1%.
Pada saat pretes, kesalahan yang terjadi adalah perihal pemilihan unsur-unsur pendukung ide utama yang tidak pas.  Kesalahan ini mengakibatkan terjadinya ketidak-sesuaian antara isi karangan dengan tema karangan.  Kesalahan lainnya, yaitu munculnya dua atau lebih ide pokok dalam satu paragraf, sehingga mengaburkan tema karangan yang sebenarnya. Kesalahan ini bisa dilihat pada contoh paragraf berikut;
Watashi ha ima, UNNES de nihongo o benkyoushiteiru. Jitsu ha koukou no toki, nihongo no jugyou ga nakatta. Nihongo ga muzukashikattaga, omoshirokatta. Nihon no uta mo suki datta.
(Saya sekarang sedang mempelajari bahasa Jepang di UNNES. Ketika SMA, tidak ada pelajaran bahasa Jepang. Bahasa Jepang sulit tapi menarik. Saya juga menyukai lagu Jepang)
Dari contoh di atas terlihat bahwa mahasiswa bermasalah dalam mengembangkan ide pokok/topik/tema karangan. Akibatnya, isi karangan menjadi tidak sesuai dengan tema karangan itu sendiri.  Tema paragraf di atas adalah kalimat pertama pada paragrah itu, sedangkan isinya seharusnya didukung oleh kalimat kedua dan seterusnya.  Akan tetapi, yang terjadi justru munculnya topik baru, yaitu, tentang kesulitan dalam belajar bahasa Jepang dan lagu Jepang.   
Ketika postes, kesalahan di atas mulai berkurang.  Mahasiswa mulai bisa mengembangkan isi karangan yang sesuai dengan tema.  Hal ini bisa dilihat pada contoh paragraf berikut;
Koukou no toki, watashi ha tomodachi to nihongo no uta wo yoku kiita. Nihongo no uta ga suki dakara, nihongo wo benkyoushitai. Sorede, UNNES no nihongo kyouiki puroguramu ni hairu koto ni suru.
(Ketika SMA, saya dan teman sering mendengar lagu Jepang. Karena menyukai lagu Jepang, saya jadi ingin belajar bahasa Jepang. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk masuk program pendidikan bahasa Jepang UNNES).
  
4)      Aspek Penceritaan
Hasil penghitungan nilai t pada aspek kosakata menunjukkan angka 3, 93.  Angka ini jelas berada jauh di atas nilai t-tabel yang berada pada angka 2,09 pada taraf signifikansi 5%, dan 2,86 pada taraf signifikansi 1%.  Oleh karena itu, bisa disimpulkan bahwa teknik 5W + 1H efektif untuk meningkatkan kemampuan menulis pada aspek kosa kata, dengan taraf signifikansi 1%.
Pada saat pretes, kesalahan yang terjadi adalah perihal pemilihan unsur-unsur pendukung ide utama yang tidak pas.  Kesalahan ini mengakibatkan terjadinya ketidak-sesuaian antara isi karangan dengan tema karangan.  Kesalahan lainnya, yaitu munculnya dua atau lebih ide pokok dalam satu paragraf, sehingga mengaburkan tema karangan yang sebenarnya. Kesalahan ini bisa dilihat pada contoh berikut;
Ima, UNNES de nihongo o benkyoushiteiru. Iro-irona nihon bunka ni kanshite, bunnkasai de miteiru. UNNES de nihonbuka wo naraenai.
(Saya sedang mempelajari bahasa Jepang di UNNES. Pada saat bunkasai, saya melihat beragam bentuk budaya Jepang. Di UNNES, saya tidak bisa mempelajarinya)
Dari contoh di atas terlihat bahwa mahasiswa bermasalah dalam mengembangkan penceritaan karangan. Akibatnya, penceritaan tidak berjalan dengan lancar, tidak fokus, apalagi tuntas.  Ditemukan dua ide utama di dalam satu paragraf.  Pada kasus ini yaitu, “belajar bahasa” dan “belajar budaya”.  Keberadaan dua ide utama ini membuat karangan jadi tidak mengalir dengan lancar dan terkesan tidak fokus.  Satu ide belum jelas pembahasannya, sudah muncul ide lain.  
Ketika postes, kesalahan di atas mulai berkurang.  Mahasiswa mulai bisa menuangkan idenya secara lebih fokus dan lebih teratur.  Hal ini bisa dilihat pada contoh paragraf berikut;
Kodomo no toki, anime o yoku mita.  Tatoeba; Dora Emon ya Shinchan ya nade ga aru. Ichiban suki na anime ha Dora Emon de aru.  Dora Emon ha totemo kawaii neko no robotto de aru.  Sono toki, nihon no koto ga suki hajimeta.
(Saat kecil, saya suka menonton anime.  Seperti; Dora Emon, Shinchan, dan lainnya.  Di antara anime-anime tersebut, saya paling suka Dora Emon. Dora Emon merupakan robot berbentuk kucing yang sangat lucu.  Saat itu, saya mulai menyukai hal-hal tentang Jepang).

C.     Penutup
1.      Kesimpulan
Ada beberapa poin penting yang bisa ditarik sebagai kesimpulan dari penelitian ini.  Yaitu;
a.       Secara umum, teknik 5W + 1H efektif untuk meningkatkan kemampuan menulis karangan (sakubun) mahasiswa Universitas Negeri Semarang.  Efektifitas penelitian ini ditandai dengan nilai t-hitung yang berada pada angka 3,86, jauh di atas nilai t-tabel yang berada pada angka 2,09 (5%) dan 2,85 (1%).  Hasil ini selanjutnya digambarkan dengan angka-angka 2,09 < 3,85 > 2,86.
b.      Secara khusus, dari keempat aspek yang dinilai, dua aspek lunguistik (kosakata dan kalimat) tidak  menunjukkan adaanya peningkatan.  Peningkatan hanya terlihat pada aspek ekstra-linguistik (isi dan penceritaan) yang signifikan.  Untuk lebih jelasnya, bisa dilihat pada tabel berikut;

Tabel   Nilai t-test Karangan
No.
Aspek
Keadaan
Keterangan
1)
Kosa Kata
2,09 > 2,08 < 2, 86
Menurun
2)
Kalimat
2,09 > 1, 14 < 2,86
Menurun
3)
Isi
2,09 < 3, 93 > 2,86
Meningkat
4)
Penceritaan
2,09 < 3,34 > 2,86
Meningkat
5)
Keseluruhan
2,09 < 3,85 > 2,86
Meningkat

2.      Saran
“Tulisan mencerminkan orangnya”.  Pameo ini adalah benar karena ternyata aktifitas menulis tersebut merupakan aktifitas berfikir.  Orang yang bisa menulis dengan baik mengindikasikan kemampuan berfikir dan berbahasa yang juga baik.  Oleh karena itu, pembelajaran menulis haruslah memperhatikan aspek bahasa dan aspek pikiran (ide) secara berimbang.
Jika diamati dari sudat pandang di atas, terlihat bahwa penelitian ini secara umum memang mampu meningkatkan kemampuan menulis.  Hubungan peningkatan dengan treatment secara statistik juga bisa dijabarkan.  Akan tetapi, penurunan kemampuan yang terjadi pada aspek penggunaan kalimat jelas mengindikasikan bahwa penelitian ini masih mempunyai banyak kelemahan. 
Oleh karena itu, penulis berencana untuk melanjutkan penelitian ini pada masa yang akan datang.  Berdasarkan hasil evaluasi pribadi terhadap penelitian ini, penulis merasa teknik 5W + 1H ini akan lebih baik jika digabungkan dengan teknik lain yang bisa menyentuh aspek kebahasaan dalam menulis.  Dalam hal ini, penulis merekomendasikan teknik-teknik berikut;
1.      Teknik collaborative untuk memperbaiki aspek kebahasaan.
2.      Teknik modelling untuk memberikan contoh konteks pemakaian kebahasaan dalam karangan.

Daftar Pustaka
Alwasilah, A. Chaedar. 2007. Pokoknya Menulis. Bandung: PT Kiblat Buku Utama.
Alwasilah, A. Chaedar. 2007. Pokoknya Kualitatif. Bandung: Pustaka Jaya.
Dahidi, Ahmad. 2004. Ihwal Pembelajaran Menulis (sakubun) di Program Pendidikan Bahasa Jepang FPBS UPI (artikel dalam Jurnal Asosiasi Studi Pembelajaran Bahasa Jepang Indonesia Jawa Barat edisi kedua 2004).
Ermanto. 2005. Menjadi Wartawan Handal dan Profesional. Yogyakarta: Cinta Pena.
Heniati, Diah. 2006.  Pembelajaran Menulis Naratif dengan Teknik “5 W + 1 H”. (tesis tidak diterbitkan). Bandung: UPI
Nurgiantoro,Burhan.2009. Penilaian  dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta.
Semi, M Atar.1993. Rancangan Pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Bandung: Angkasa.
Setiawati, Ai Sumirah. 2009. Sakubun shidou ni okeru purosesu apurochi (laporan tesis, tidak diterbitkan).
Sutedi, Dedi. 2008. Upaya untuk Mengatasi Masalah dalam Pembelajaran Sakubun (Makalah dalam Seminar: Model Pembelajaran Bahasa Jepang Berbasis IT Bandung 23 Agustus 2008 )
Sutedi, Dedi. 2009. Penelitian Pendidikan Bahasa Jepang. Bandung: Humaniora Utama Press.
Tarigan, Hendri Guntur. 2008. Menulis sebagai suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.  
Satuan Acara Pembelajaran Sakubun Semester VI, Program Pendidikan Bahasa Jepang Universitas Negeri Semarang.
Silabus Pembelajaran Sakubun Semester VI, Program Pendidikan Bahasa Jepang Universitas Negeri Semarang.
林大(1990)「日本語教育ハンドブック」大修館書店
林大(1991)「日本語テストハンドブック」大修館書店
石田・敏子(2002)「日本語教授法」大修館書店
岡崎敏夫・岡崎瞳(2001)「日本語教育における学習の分析とデザイン」凡人者

No comments:

Post a Comment